23 November 2014
Search :
PELUANG USAHA


Potensi Perdagangan dan Investasi Mesir
Sabtu, 05 Agustus 2006

Mesir, negara di Afrika Utara yang berpenduduk hampir 27 juta jiwa, yang pada Juni lalu dikunjungi Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu beserta rombongan ini ternyata memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup lumayan.
Pada tahun 2004, tingkat pertumbuhan ekonominya mencapai 4% atau setara dengan US$ 76,0 miliar. Sementara pendapatan per kapitanya mencapai US$ 1.036 dengan tingkat pengangguran 10%. Total perdagangan Mesir dengan dunia pada tahun 2004 sebesar US$ 20,54 miliar, meningkat 20,39% dibandingkan dengan tahun 2003 yang sebesar 17,06 miliar.
Sedangkan ekspor negeri Sungai Nil ini ke seluruh dunia pada tahun 2004 mencapai US$ 7,69 miliar, meningkat 24,72% dibanding tahun 2003 yang cuma US$ 6,61 miliar. Komoditi ekspor utamanya adalah minyak mentah dan produk petrokimia, kapas, tekstil, produk baja dan kimia.
Adapun nilai impor negeri Piramid ini pada tahun 2004 sebesar US$ 12,58 miliar, ini meningkat 17,94% dibanding tahun 2003 yang tercatat sebesar US$ 10,90 miliar, dengan komoditi utamanya mesin dan peralatannya, produk makanan, produk kayu dan bahan bakar.
Yang jelas, Mesir, disamping merupakan negara tujuan ekspor, juga merupakan ?pintu gerbang? atau ?pintu masuk? untuk menembus pasar di beberapa negara di kawasan Afrika, Asia dan Eropa. Dengan bergabungnya Mesir ke dalam Common Market of Eastern and Southern Africa (COMESA) yang beranggotakan negara dan adanya kesepakatan perdagangan bebas di antara mereka, menjadikan negeri Cleopatra ini sebagai pasar yang cukup menarik.
Meskipun ekonomi Mesir terus tumbuh dan berkembang, namun karena hasil pertanian dan industrinya masih relatif terbatas telah mendorong peningkatan impor Mesir dalam jumlah besar dari manca negara termasuk Indonesia.
Selama ini negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini memperoleh berbagai kemudahan dari Amerika Serikat, Eropa Barat dan negara-negara Teluk dalam mengekspor hasil industri dan pertaniannya, khususnya kemudahan dala tarif impor.
Kemudahan-kemudahan tadi tentunya bisa dimanfaatkan oleh Indonesia untuk melakukan joint venture negara anggota free trade area (AFTA) ini yang hasil produksinya dipasarkan ke kawasan tersebut.

Perdagangan Bilateral
Selama ini, hubungan antara Indonesia dengan Mesir tidak terdapat hambatan yang berarti. Hal ini tercermin dengan semakin besarnya nilai ekspor Indonesia ke negeri Piramid tersebut selama tahun 2004 dibandingkan tahun 2003. Data BPS menyebutkan, total nilai perdagangan Indonesia-Mesir tahun 2004 tercatat sebesar US$ 215,59 juta atau meningkat 6,87% dibanding tahun 2003 sebesar US$ 201,12 juta. Sedangkan total nilai perdagangan tahun 2005 (Januari-Mei) tercatat sebesar US$ 140,73 juta meningkat 82,74% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2004 yang tercatat sebesar US$ 77,01 juta.
Neraca perdagangan kedua negara selama periode tahun 2000-2004 selalu menunjukkan surplus bagi Indonesia. Surplus tahun 2004 tercatat sebesar US$ 178,94 juta, meningkat 28,20% dibandingkan surplus tahun 2003 yang tercatat sebesar US$ 139,58 juta. Pada tahun 2005 (Januari-Mei) neraca perdagangan kita juga surplus sebesar US$ 122,27 juta atau meningkat 96,32% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2004 yang tercatat sebesar US$ 62,28 juta.
Ekspor Indonesia ke Mesir tahun 2004 sebesar US$ 197,27 juta, meningkat 15,80% dibandingkan tahun 2003 yang tercatat sebesar US$ 170,35 juta. Pada tahun 2005 (Januari-Mei) ekspor Indonesia ke Mesir tercatat sebesar US$ 135,03 juta, meningkat 92,05% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2004 yang tercatat sebesar US$ 70,31 juta.
Adapun komoditi ekspor utama kita ke Mesir adalah tekstil dan produk tekstil, mesin, perangkat elektronik, baja dan produk baja, otomotif, produk kayu, produk kulit, biji baja, produk kimia organik, produk kertas dan pulp, batu bara, karet serta produk-produk lainnya.
Impor negara kita dari Mesir tahun 2004 sebesar US$ 18,32 juta, turun 40,44% dibandingkan impor tahun 2003 yag tercatat sebesar US$ 30,77 juta. Pada tahun 2005 (januari-Mei) impor kita sebesar US$ 12,76 juta, meningkat 58,92% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2004 yang tercatat sebesar US$ 8,03 juta.
Berdasarkan pengamatan KBRI di Kairo, produk Indonesia yang mempunyai peluang besar untuk dipasarkan di Mesir antara lain kaca dan peralatan pecah belah, furnitur, produk keramik, tembakau, buah-buahan, kacang-kacangan, fotografi, sinematografi, timah dan produk-produk lainnya. Yang pasti, dalam kerangka hubungan perdagangan bilateral dengan Mesir, Indonesia tampaknya dapat diuntungkan.


Peluang Pasar Indonesia di Tanzania

Sabtu, 05 Agustus 2006
Hubungan bilateral antara Indonesia dan Tanzania selama ini berjalan cukup baik. Terbukti, pada tahun 2002 lalu Perdana Menteri Tanzania Frederick Sumaye melakukan kunjungan resmi ke Jakarta. ()

Pengunjung hari ini :  
Total Pengunjung    :  

Copyright © 2003 Indag-DIY. All rights reserved. Contact Us.
Designed by THINKNOLIMITS.